NEGARA YANG HEBAT BUKAN NEGARA YANG BANYAK RENCANA DI PARIPURNA
Editorial Redaksi OPOSISINEW
Ada satu kebiasaan yang terus diwariskan di negeri ini: terlalu pandai merancang, terlalu lambat mengerjakan.
Ruang paripurna dipenuhi tepuk tangan. Proposal demi proposal disahkan. Target demi target diumumkan. Anggaran terus bertambah. Spanduk keberhasilan dipasang di mana-mana. Seolah-olah negeri ini sudah melompat jauh ke depan.
Sayangnya, ketika rakyat keluar rumah, mereka justru menemukan jalan yang berlubang, pelayanan yang berbelit, harga kebutuhan yang terus menggigit, dan keadilan yang terkadang terasa hanya ramah kepada mereka yang memiliki kekuasaan.
Ironisnya, setiap persoalan selalu dijawab dengan satu kalimat yang sama: "Sedang direncanakan."
Seakan-akan rakyat bisa mengenyangkan perut dengan rencana. Seolah petani dapat memanen pidato. Seakan nelayan bisa membawa pulang hasil laut dari naskah rapat paripurna.
Negara tidak pernah maju hanya karena pandai menyusun dokumen. Negara maju karena berani mengeksekusi. Rakyat tidak membutuhkan pemerintah yang hebat berbicara, tetapi pemerintah yang sanggup bekerja tanpa harus terus-menerus mencari panggung.
Hari ini kita hidup di zaman ketika pencitraan sering berlari lebih cepat daripada pembangunan. Kamera lebih dahulu tiba daripada solusi. Peresmian lebih banyak daripada penyelesaian. Seremoni semakin megah, tetapi keluhan masyarakat tetap menjadi berita yang berulang.
Yang lebih menyedihkan, keberhasilan sering diukur dari banyaknya konferensi pers, bukan dari berkurangnya penderitaan rakyat.
Padahal sejarah selalu sederhana. Ia tidak pernah mencatat siapa yang paling sering berpidato. Sejarah hanya mengingat siapa yang meninggalkan jejak nyata.
Ruang paripurna seharusnya menjadi tempat lahirnya keputusan yang berpihak kepada rakyat, bukan panggung untuk mempertontonkan kepiawaian beretorika. Sebab setiap kalimat yang diucapkan di ruang sidang sejatinya adalah utang moral yang harus dibayar dengan kerja nyata.
Rakyat sudah terlalu lama dijejali janji. Yang mereka tunggu bukan lagi kata-kata, melainkan bukti. Bukan lagi slogan, melainkan perubahan yang benar-benar terasa.
Sebab bangsa ini tidak kekurangan rencana.
Yang sering hilang adalah keberanian untuk menuntaskannya.
Dan ingatlah, ketika rapat lebih banyak daripada hasil, ketika pidato lebih panjang daripada tindakan, ketika pencitraan lebih mahal daripada pelayanan, saat itulah negara sedang kehilangan arah.
Negara yang hebat bukan negara yang paling sering bersidang di ruang paripurna.
Negara yang hebat adalah negara yang mampu membuat rakyat tersenyum tanpa harus menunggu hasil rapat berikutnya.
— Redaksi OPOSISINEW
0 Komentar