🟢 SOROTAN TERKINI

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN
Jangan Hanya Perjuangkan Makan Bergizi, Perjuangkan Juga Orang Tua Mereka yang Terjerat Pinjaman

OPINI | OPOSISINEW & INDO UPDATE TERKINI

Yang Terhormat,
Bapak Presiden Republik Indonesia

Dengan hormat,

Kami ingin menyampaikan suara dari masyarakat kecil yang mungkin tidak selalu terdengar di tengah berbagai program besar pemerintah.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tentu merupakan program yang penting bagi anak-anak Indonesia. Anak-anak membutuhkan asupan makanan yang sehat dan bergizi agar dapat tumbuh serta belajar dengan baik.

Namun, izinkan kami mengajukan satu pertanyaan sederhana:

Bagaimana dengan orang tua mereka?

Bagaimana dengan orang tua yang setiap hari harus memikirkan biaya makan, pendidikan anak, listrik, kebutuhan rumah tangga, biaya kesehatan, hingga kebutuhan mendesak lainnya?

Tidak sedikit masyarakat kecil yang akhirnya mengambil pinjaman untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Mereka tidak selalu meminjam puluhan atau ratusan juta rupiah.

Banyak masyarakat kecil hanya memiliki pinjaman sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta.

Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terlihat kecil.

Tetapi bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kehilangan pekerjaan, pekerja informal, pedagang kecil, buruh, maupun keluarga yang penghasilannya tidak menentu, utang Rp7 juta atau Rp8 juta dapat menjadi beban yang sangat berat.

Mereka meminjam bukan selalu karena ingin hidup mewah.

Mereka meminjam karena kebutuhan hidup tidak bisa ditunda.

Ada yang meminjam untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Ada yang membayar biaya sekolah anak.

Ada yang menghadapi kebutuhan kesehatan.

Ada yang kehilangan pekerjaan.

Dan ada pula yang terpaksa meminjam karena tidak memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ketika Rakyat Jatuh, Jangan Tutup Pintu Untuk Bangkit

Persoalan kemudian menjadi lebih berat ketika masyarakat mengalami kesulitan membayar dan masuk dalam catatan kredit bermasalah atau kolektibilitas 5 (Kol 5).

Pada kondisi tertentu, status tersebut dapat membuat masyarakat semakin sulit memperoleh akses pembiayaan formal.

Di sinilah kami ingin menyampaikan kegelisahan:

Apakah masyarakat kecil yang pernah gagal membayar karena kondisi ekonomi harus kehilangan kesempatan untuk bangkit?

Kami tidak meminta masyarakat dibebaskan dari kewajibannya.

Kami tidak meminta negara menghapus seluruh utang rakyat.

Kami juga tidak meminta penghapusan Kol 5 secara membabi buta.

Yang kami minta adalah kebijakan yang memberikan kesempatan kedua kepada masyarakat kecil yang benar-benar memenuhi kriteria.

Bapak Presiden, Apakah Tidak Bisa Ada Program Rehabilitasi Kredit?

Jika pemerintah serius ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kami berharap persoalan ini juga mendapatkan perhatian.

Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri jasa keuangan dapat mempertimbangkan sebuah mekanisme rehabilitasi atau pemulihan kredit bagi masyarakat kecil yang mengalami kesulitan pembayaran karena kondisi ekonomi.

Program tersebut dapat dibuat secara selektif dan bersyarat.

Misalnya, hanya diberikan kepada masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu, memiliki itikad baik, mengikuti mekanisme restrukturisasi atau penyelesaian kewajiban, serta tidak memiliki pola penyalahgunaan fasilitas kredit.

Dengan demikian, yang diberikan bukan sekadar penghapusan kewajiban.

Tetapi kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.

Mereka dapat diberi jalan untuk memperbaiki catatan kredit setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan, sehingga pada akhirnya dapat kembali mengakses pembiayaan formal dan produktif.

Rp7 Juta atau Rp8 Juta Mungkin Kecil Bagi Sebagian Orang, Tetapi Tidak Bagi Rakyat Kecil

Bapak Presiden,

Kita perlu melihat persoalan ini dari sudut pandang masyarakat kecil.

Rp7 juta atau Rp8 juta mungkin bukan angka yang besar bagi sebagian kalangan.

Tetapi bagi keluarga yang hidup dengan penghasilan terbatas, angka tersebut dapat menjadi beban yang membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan.

Jangan sampai karena utang yang relatif kecil, seseorang kemudian kehilangan kesempatan untuk memperoleh pembiayaan resmi dan akhirnya justru terdorong mencari pinjaman lain yang lebih berisiko.

Bukankah lebih baik masyarakat diarahkan kembali ke lembaga keuangan formal yang diawasi regulator daripada membiarkan mereka mencari jalan keluar melalui pinjaman yang tidak jelas?

Jangan Hanya Memberi Makan Anak, Bangun Juga Ekonomi Orang Tuanya

Bapak Presiden,

Anak-anak memang membutuhkan makanan bergizi.

Tetapi anak-anak juga membutuhkan orang tua yang memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Mereka membutuhkan keluarga yang mampu membayar kebutuhan rumah tangga tanpa harus terus-menerus menggali lubang untuk menutup lubang.

Karena itu, kami berpandangan bahwa program kesejahteraan harus berjalan bersama dengan program pemulihan ekonomi keluarga.

Jangan hanya bertanya:

«“Apakah anak-anak sudah mendapatkan makanan bergizi?”»

Tetapi tanyakan pula:

«“Apakah orang tua mereka memiliki pekerjaan?”»

«“Apakah mereka memiliki penghasilan yang cukup?”»

«“Apakah mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan setelah terjerat utang?”»

Karena kesejahteraan anak tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan keluarganya.

Kami Tidak Meminta Belas Kasihan, Kami Meminta Kesempatan

Masyarakat kecil tidak selalu membutuhkan belas kasihan.

Mereka membutuhkan kesempatan.

Kesempatan untuk bekerja.

Kesempatan untuk membuka usaha.

Kesempatan untuk memperbaiki catatan kredit.

Kesempatan untuk kembali mendapatkan pembiayaan formal.

Dan yang paling penting, kesempatan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan ekonomi.

Karena seseorang yang hari ini gagal membayar utang bukan berarti selamanya tidak mampu menjadi masyarakat yang produktif.

Bisa jadi besok ia mendapatkan pekerjaan.

Bisa jadi ia membuka usaha.

Bisa jadi penghasilannya kembali membaik.

Tetapi jika seluruh pintu pembiayaan formal tertutup, bagaimana mereka bisa berkembang?

Surat Terbuka Ini Adalah Suara Masyarakat Kecil

Bapak Presiden,

Kami berharap pemerintah tidak melihat persoalan pinjaman masyarakat hanya dari angka dan laporan keuangan.

Di balik setiap pinjaman ada manusia.

Di balik setiap kredit bermasalah ada keluarga.

Dan di balik setiap angka Kol 5, mungkin ada seorang ayah atau ibu yang dahulu meminjam karena ingin mempertahankan kehidupan keluarganya.

Karena itu, kami mendorong pemerintah bersama OJK untuk mengevaluasi kebijakan pemulihan kredit bagi masyarakat kecil, termasuk kemungkinan mekanisme rehabilitasi catatan kredit secara selektif dan terukur bagi mereka yang benar-benar layak mendapatkan kesempatan kedua.

Bukan berarti utang harus dihapus begitu saja.

Tetapi jangan biarkan masyarakat kehilangan masa depannya hanya karena pernah jatuh dalam persoalan ekonomi.

Bapak Presiden,

Jika negara benar-benar ingin mensejahterakan rakyat, maka jangan hanya perjuangkan apa yang masuk ke dalam perut anak-anak.

Perjuangkan juga pekerjaan bagi orang tuanya.

Jangan hanya berikan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan.

Berikan pula jalan agar mereka mampu berdiri sendiri.

Dan jangan hanya melihat masyarakat yang gagal membayar utang sebagai angka dalam sistem.

Lihat mereka sebagai manusia yang masih memiliki kesempatan untuk bangkit.

Karena pada akhirnya, rakyat kecil tidak meminta negara membayar semua utangnya.

Mereka hanya meminta negara tidak menutup pintu ketika mereka sedang berusaha membayar dan memperbaiki hidupnya.

Rakyat tidak selalu membutuhkan belas kasihan.
Rakyat membutuhkan kesempatan kedua.

Salam hormat untuk Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

OPOSISINEW
INDO UPDATE TERKINI

Posting Komentar

0 Komentar